Menu Tutup

Tingkatkan Hasil Tani: Kementan Fokus pada Pengembangan Lahan Basah

Dalam upaya mewujudkan swasembada pangan dan tingkatkan hasil tani nasional, Kementerian Pertanian (Kementan) pada tahun 2025 ini secara agresif memfokuskan programnya pada pengembangan lahan basah atau lahan rawa. Strategi ini menjadi kunci vital mengingat potensi lahan rawa yang sangat besar namun belum termanfaatkan secara optimal. Melalui serangkaian inisiatif terpadu, Kementan bertekad untuk tingkatkan hasil tani di wilayah ini, menjadikannya lumbung pangan baru bagi Indonesia.

Potensi lahan basah di Indonesia mencapai jutaan hektar, tersebar di berbagai pulau. Namun, karakteristiknya yang unik dengan tingkat keasaman tanah yang tinggi dan fluktuasi muka air sering menjadi tantangan. Kementan melihat ini sebagai peluang, bukan hambatan, dengan menerapkan pendekatan holistik. Menteri Pertanian, dalam sebuah konferensi pers di kantor pusat Kementan pada hari Rabu, 5 Februari 2025, menyatakan bahwa “Pengembangan lahan basah adalah solusi strategis untuk menghadapi tantangan ketersediaan lahan dan perubahan iklim. Kami optimistis bisa tingkatkan hasil tani signifikan dari sini.”

Langkah konkret yang diambil Kementan meliputi perbaikan infrastruktur tata air. Ini berarti pembangunan dan rehabilitasi saluran irigasi primer, sekunder, dan tersier, serta pembangunan tanggul dan pintu air. Pengelolaan tata air yang baik sangat esensial untuk mengendalikan kadar air di lahan rawa, memastikan tanaman mendapatkan pasokan air yang optimal dan mengurangi risiko banjir atau kekeringan. Contoh nyata adalah proyek percontohan di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, yang sejak 1 Maret 2025 telah memulai rehabilitasi jaringan irigasi di area seluas 20.000 hektar.

Selain itu, Kementan juga fokus pada peningkatan kesuburan tanah. Lahan basah seringkali memiliki tingkat keasaman (pH) yang rendah dan kandungan nutrisi yang minim. Untuk mengatasi ini, Kementan mendorong penggunaan kapur pertanian, bahan organik, serta pupuk berimbang yang disesuaikan dengan karakteristik tanah rawa. Penyediaan benih unggul adaptif rawa dan pendampingan teknologi kepada petani juga menjadi prioritas. Pada acara temu lapang petani di Jambi pada tanggal 10 April 2025, para penyuluh pertanian telah membagikan varietas padi khusus rawa yang terbukti memiliki produktivitas tinggi.

Dengan demikian, fokus Kementan pada pengembangan lahan basah adalah strategi komprehensif untuk tingkatkan hasil tani dan mewujudkan ketahanan pangan nasional. Melalui kolaborasi antara pemerintah, ilmuwan, dan petani, lahan yang sebelumnya kurang produktif ini kini berpotensi besar untuk menjadi sumber pangan vital, mendukung pertumbuhan ekonomi pedesaan, dan menjamin ketersediaan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia.