Indonesia dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati terbesar di dunia, namun ancaman kepunahan varietas tanaman lokal akibat perubahan iklim dan dominasi benih industri menjadi kenyataan yang mengkhawatirkan. Menanggapi situasi ini, Pusat Tani menjalankan sebuah misi ilmiah yang sangat krusial melalui teknologi Kryopreservasi. Teknologi ini merupakan metode pelestarian materi biologis pada suhu yang sangat rendah, biasanya menggunakan nitrogen cair pada suhu sekitar -196 derajat Celcius. Dengan metode ini, waktu seolah berhenti bagi sel-sel tanaman, memungkinkan penyimpanan jangka panjang tanpa mengubah struktur genetiknya sedikit pun.
Misi utama dari Pusat Tani dalam menggunakan teknologi ini adalah untuk menciptakan “tabungan” masa depan bagi pertanian Indonesia. Varietas padi gogo, jagung warna-warni dari pelosok desa, hingga umbi-umbian langka yang hampir punah dikumpulkan dan disimpan dalam bank genetik ini. Kryopreservasi memungkinkan penyimpanan bagian tanaman seperti meristem, serbuk sari, atau embrio dalam ruang yang sangat efisien namun memiliki daya tahan hingga ratusan tahun. Ini adalah asuransi terbaik yang bisa kita miliki untuk memastikan bahwa jika suatu saat terjadi bencana lingkungan atau wabah penyakit tanaman, kita masih memiliki cadangan genetik asli untuk memulihkan ekosistem pertanian kita.
Upaya menjaga genetik ini bukan tanpa tantangan teknis yang tinggi. Setiap jenis tanaman memiliki karakteristik sel yang berbeda, sehingga tim ahli di PusatTani harus terus melakukan riset untuk menemukan protokol pembekuan yang tepat agar sel tidak rusak oleh kristal es saat proses pendinginan berlangsung. Namun, keberhasilan teknologi ini memberikan secercah harapan bagi kedaulatan pangan nasional. Kita tidak lagi harus bergantung sepenuhnya pada benih impor yang sering kali tidak adaptif dengan kondisi tanah lokal. Dengan melestarikan benih asli, kita sebenarnya sedang menjaga warisan pengetahuan dan kekayaan alam yang telah dikembangkan oleh nenek moyang kita selama ribuan tahun.
Keunggulan lain dari Kryopreservasi dibandingkan dengan penyimpanan benih konvensional adalah kemampuannya menyimpan tanaman yang tidak menghasilkan biji (reproduksi vegetatif). Banyak pangan lokal seperti talas, pisang, dan ubi yang tidak bisa disimpan sekadar di dalam kotak kayu atau kulkas biasa dalam waktu lama. Melalui laboratorium Pusa tTani, tanaman-tanaman ini tetap “hidup” dalam kondisi dormansi yang dalam. Saat dibutuhkan, materi genetik ini dapat dibangunkan kembali dan diperbanyak melalui teknik kultur jaringan untuk kemudian dikembalikan ke tangan para petani di lahan-lahan mereka.