Bagi petani pemula, memulai praktik budidaya seringkali penuh tantangan. Di sinilah efektivitas pelatihan langsung di lapangan menjadi sangat krusial, memberikan pengalaman konkret yang jauh lebih bermakna daripada sekadar teori. Metode “belajar di lahan” ini memungkinkan mereka untuk memahami seluk-beluk pertanian secara langsung, mengurangi risiko kesalahan fatal di awal. Pada Rabu, 10 September 2025, dalam sebuah sesi field school untuk petani milenial di Desa Tani Makmur, Kabupaten Bogor, Bapak Dr. Suryo Adi, seorang agronomis dari Institut Pertanian Bogor, menyatakan, “Efektivitas pelatihan langsung ini tak terbantahkan, terutama bagi mereka yang baru terjun ke dunia pertanian. Mereka bisa langsung merasakan tanah dan melihat tanaman tumbuh.” Pernyataan ini didukung oleh data hasil panen dari kelompok petani pemula yang mengikuti program demplot sejak Maret 2025, menunjukkan peningkatan produktivitas hingga 20% dibandingkan metode konvensional.
Salah satu alasan utama efektivitas pelatihan langsung adalah kesempatan untuk praktik langsung. Petani pemula bisa belajar cara mengolah tanah yang benar, menentukan jarak tanam optimal, teknik penyemaian bibit, hingga metode pemupukan dan penyiraman yang efisien. Mereka dapat merasakan tekstur tanah, mengamati pertumbuhan tanaman secara langsung, dan mendapatkan koreksi instan dari mentor atau penyuluh. Misalnya, dalam pelatihan penanaman kangkung pada 09.00 WIB di hari field school tersebut, 50 petani pemula diajarkan cara membuat bedengan, menabur benih, dan menyiram dengan sistem irigasi sederhana yang dapat mereka terapkan di lahan masing-masing. Bibit kangkung varietas “Hijau Segar” dipilih karena adaptasinya yang baik di wilayah tersebut.
Efektivitas pelatihan langsung juga terletak pada kemampuan untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah di tempat. Ketika menghadapi hama, penyakit, atau masalah nutrisi, petani dapat langsung berkonsultasi dengan ahli yang hadir di lapangan. Mereka belajar bagaimana mengenali gejala, menganalisis penyebab, dan menerapkan solusi yang tepat, alih-alih hanya mengandalkan informasi dari buku atau internet yang mungkin tidak sesuai dengan kondisi lokal. Hal ini membangun rasa percaya diri dan kemandirian petani. Seorang Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dari Balai Penyuluhan Pertanian setempat, yang hadir dalam acara tersebut, memberikan panduan langsung mengenai penanganan serangan ulat grayak pada tanaman sawi, menggunakan pestisida nabati.
Lingkungan kolaboratif yang terbentuk selama pelatihan langsung pertanian juga penting. Petani pemula dapat saling berbagi pengalaman, bertanya, dan belajar dari sesama rekan. Ini menciptakan komunitas belajar yang mendukung dan memotivasi. Program semacam ini juga sering diikuti dengan kunjungan ke sentra produksi atau petani sukses untuk mendapatkan inspirasi. Sebuah laporan dari Kementerian Pertanian pada 1 Juli 2025, merekomendasikan perluasan program field school untuk petani pemula di seluruh provinsi. Dengan demikian, efektivitas pelatihan langsung di lahan adalah kunci yang membuka pintu kesuksesan bagi petani pemula, membekali mereka dengan pengetahuan praktis dan kepercayaan diri untuk mencapai hasil panen yang optimal.